Dosen STIT Al-Ibrohimy Bangkalan Gelar PkM: Membangun Kelekatan Orang Tua TKI/W dengan Anak Usia Dini

Malaysia, 09 Juli 2024 – Dalam rangka menjalankan salah satu pilar Tridharma Perguruan Tinggi, dosen STIT Al-Ibrohimy Bangkalan, Indris Afandi, M.Psi, melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Syarikat Rezeki K.r Enterprise bertema “Menciptakan Tingkat Pemahaman Orang Tua TKI/W Malaysia Dalam Membangun Attachment Pada Anak Usia Dini di Kampung Halamannya di Kota Bangkalan Jawa Timur.”

Kegiatan ini berfokus pada upaya memperkuat hubungan emosional antara orang tua Tenaga Kerja Indonesia (TKI/W) yang bekerja di Malaysia dengan anak-anak mereka yang tinggal di kampung halaman. Permasalahan ini menjadi perhatian penting karena fenomena sosial keluarga TKI/W sering menimbulkan dampak psikologis dan emosional terhadap perkembangan anak, terutama dalam hal kelekatan (attachment) antara orang tua dan anak.

Melalui kegiatan ini, Indris Afandi, M.Psi., menekankan dua tujuan utama, yaitu: (1) membangun attachment orang tua dalam membentuk karakter anak, dan (2) membangun kualitas hubungan emosional yang berkelanjutan antara orang tua dan anak, meskipun terpisah jarak dan waktu. Kegiatan ini dilakukan melalui pendekatan edukatif, diskusi partisipatif, dan simulasi interaksi keluarga yang menitikberatkan pada pentingnya komunikasi yang empatik dan penuh kasih.

Dari hasil observasi dan kegiatan pendampingan, diperoleh temuan bahwa pola kelekatan yang terbentuk antara anak dan orang tua TKI/W cenderung termasuk dalam kategori insecure attachment atau kelekatan tidak aman. Kondisi ini terjadi karena beberapa faktor, di antaranya kurangnya komunikasi intensif antara ibu dan anak, minimnya kebersamaan emosional maupun fisik, serta rendahnya rasa saling percaya dalam hubungan keluarga.

Dampak dari insecure attachment ini mulai tampak pada perkembangan psikososial anak, terutama di usia remaja. Banyak anak menunjukkan rasa tidak percaya diri dalam berinteraksi dengan orang lain dan cenderung menutup diri terhadap permasalahan pribadi. Akibatnya, mereka mengalami kesulitan dalam membangun hubungan sosial yang sehat dan terbuka. Situasi ini menunjukkan bahwa peran orang tua dalam membangun hubungan emosional yang aman dan stabil sangat penting, meskipun keterbatasan jarak menjadi tantangan utama.

Dalam paparannya, Indris Afandi, M.Si. menegaskan bahwa membangun kelekatan yang aman antara orang tua dan anak tidak selalu membutuhkan pertemuan fisik secara langsung, tetapi dapat dilakukan melalui komunikasi yang konsisten, penuh perhatian, dan bermakna. Menurutnya, “Kelekatan yang aman akan menjadi fondasi penting dalam pembentukan karakter, rasa percaya diri, dan stabilitas emosional anak di masa depan. Orang tua perlu memahami bahwa kehadiran emosional sama pentingnya dengan kehadiran fisik.”

Kegiatan PkM ini juga menjadi wujud nyata komitmen STIT Al-Ibrohimy Bangkalan dalam melaksanakan tridharma perguruan tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat. Melalui kegiatan semacam ini, dosen dan civitas akademika diharapkan dapat berkontribusi langsung dalam menyelesaikan persoalan sosial yang berkembang di lingkungan masyarakat, sekaligus memberikan solusi berbasis keilmuan dan pendekatan humanistik.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan muncul kesadaran baru di kalangan orang tua TKI/W tentang pentingnya membangun attachment yang positif bersama anak-anak mereka. Melalui komunikasi yang hangat dan hubungan emosional yang kuat, anak-anak diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, mandiri, dan memiliki karakter yang tangguh di tengah dinamika kehidupan modern.